Tulisan Rami Musrady Zaini. Hampir Tak Ada Yang Abadi

Hampir…Tak Ada Yang Abadi

Oleh : Rami Musrady Zaini

Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu

Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang

Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi.

Ho….Biarkan aku bernafas sejenak
Sebelum hilang.

***

SYAHDAN Ariel Noah mantan kekasih luna maya itu menggubah lagu dengan judul ‘tak ada yang abadi.’ Lirik-liriknya mengandung konsep bahwa segala sesuatunya tak tetap, segalanya berubah. Sebuah pengikhwalan bahwa tak pernah ada seseorang yang bisa mempertahankan segala sesuatunya.

Semua kan pergi, berubah, lalu menghilang. Lima ratus tahun yang lalu, sebelum yesus lahir, Herakleitos, pemikir Yunani pra-Sokrates melounching postulat ‘Pantarhei’ yang berarti tiap hal berubah dan tak ada yang tetap. Sebuah konsep filsafat yang menyobek-nyobek aliran ekstensialisme. Yang menunjuk bahwa ‘Ada’ adalah sesuatu yang tinggal dan konstan.

Pantarhei menegaskan semua nilai hampir bergerak dan tak tertinggal. Kupu-kupu, tak pernah menjadi kupu-kupu sebelum memfase ulat menjadi kepompong, Matahari tak selamanya menatap siang, tetapi ia membagi sinar kepada bulan tuk menghadirkan malam.

Perubahan kecil maupun besar, selalunya hanya menyisakan bulir-bulir jejak, bahwasanya hanya sebagai penanda bahwa itu pernah terjadi. Di- masa lalu mempengaruhi masa depan atawa sebaliknya namun semua masa tak mampu menyimpan keabadiannya.

Keabadian hanyalah perubahan itu sendiri, yang bentuknya absurd tak kasat mata hingga bisa dilafal ‘tak ada’. Sejatinya tak ada yang pernah bisa menyelam ke dalam arus yang sama, karena segala entitas dan nilai senantiasa bergerak tak ada yang berhenti.

Apatah lagi dalam bingkai kuasa, keabadian sama ajeknya dengan ‘kenihilan’ .Konon seorang politikus berujar tak pernah ada yang abadi kecuali kepentingan. Justru itu kalimat yang perlu diluruskan bahwa kepentingan pun tak abadi, kepentingan juga berubah, bahkan dalam tempo yang sekejap.

Kehidupan mengalir dan menari bersama tarian semesta, berjalan seperti bintang yang bertaburan secara acak, lelah bertabrakan, dan akhirnya jatuh. Kita hidup dalam keadaan yang serba berubah, dalam kehidupan yang tak mungkin, dalam kehidupan yang tidak ditentukan sebuah kodrat. Sebab kodrat pun cenderung berubah. Hingga simpulannya hampir tak ada yang abadi.

Dan pesan Ariel mesti direnungi “biarkan aku bernafas sejenak, sebelum aku hilang.”

In the news
Load More
%d blogger menyukai ini: